Blog

aWALI dengan BELAJAR MINUM DAN MAKAN

22 December 2013

AWALI DENGAN BELAJAR MINUM DAN MAKAN SEBELUM
BELAJAR BERBICARA APALAGI BERDIRI DAN BERJALAN

Makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Karena tugas utama hidup adalah mempertahankan hidup itu sendiri. Tidak penting makan banyak atau sedikit, makan mewah atau sederhana karena kita hanya perlu hasilnya yaitu bertahan hidup. Tidak penting apa yang kita lalui, apakah kaya, terkenal, disegani, miskin tersisih, dipinggirkan. Yang penting adalah bertahan hidup. Buat apa sukses, dihormati, disanjung tapi gagal hidup? Kenapa mesti makan berlebih atau makan mewah dan memuaskan kalau ujung-ujungnya merusak hidup? Bahkan bisa mengurangi hidup itu sendiri. Padahal kita tahu selera kita tidak akan pernah puas. Apakah karena kepuasan itu sesungguhnya adalah ketidakpuasan itu sendiri? Sepertinya perlu kita cermati agar kita tidak menjadi BUDAK dari rasa palsu yang diciptakan oleh pikiran. Pikiran tidak salah karena memang bertugas seperti itu agar kita tetap bertahan hidup. Dia harus terus bergerak karena kalau diam maka itu berati kita sudah tidak hidup lagi(pasti sudah mati karena kalau koma pikiran pasti masih bergerak).

Seperti halnya kepastian. Kita sadari atau tidak kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Hal yang pasti adalah ketidakpastian dan hal yang tidak pasti adalah kepastian. Kepuasan adalah sebuah rasa bukan sebuah bentuk(gaya hidup atau materi lain). Kenapa kita lupakan itu sehingga begitu mudahnya kita tertipu oleh pikiran yang sebatas merasa-rasa, seakan-akan rasa itu adalah sebuah bentuk dan akhirnya memaksa kita mewujudkannya menjadi sebuah bentuk. Entahkah bentuknya gaya hidup,status sosial, atau barang atau jasa atau lainnya. Rasa adalah rasa. Tanpa kita ulas atau bahaspun, secara alamiah sudah kita mengerti dan pahami dari perjalanan hidup kita. Seandainya saja kita memaknai setiap jengkal perjalanan hidup itu sendiri. Saat kita menikmati setiap detik dari hidup kita, dengan menerima dan bersyukur maka kita akan mengerti dan menerima dengan bijak semua rasa yang kita dapat. Dengan begitu kita akan mampu berlaku lebih adil terhadap semua rasa yang kita terima. Setidaknya adil pada diri sebelum adil pada yang lain. Tidak membenci rasa kurang nyaman(larut dalam kesedihan dan dendam dan bentuk lainnya) yang hanya akan menyandera hal-hal baik pada diri kita, memaksa pikiran dan kemampuan kita hanya untuk memikirkan hal-hal yang kurang baik. Menyita setiap detik yang kita miliki hanya untuk TENGGELAM.

Kita memang ada di aliran arus kehidupan tapi tidak harus tenggelam karena jika sampai tenggelam(keasyikan,terlena atau kelangen), apalagi tenggelam dalam kenikmatan dan keindahan duniawi, maka itu justru akan meminggirkan jiwa kita. Akan tetap lebih baik jika kita ada disana tapi tidak tenggelam atau sengaja menenggelamkan diri. Jika sudah tenggelam kita tidak akan bisa lagi jelas mendengar dan melihat hal-hal lain(EGO). Pikiran kita hanya dikegelapan dan kebisuan, dan menganggap hidup dan dunia hanya sebatas itu(dalam ketenggelaman). Paling hebat kita akhirnya melihat sebatas mengira-ngira permukaan itu seperti apa. Dan tidak tahu pasti permukaan itu bagaimana, apalagi di luar permukaan. Tidak bisa lagi melihat dengan jelas hal luar dan mendengar jelas hal luar(kebanyakan akhirnya memakai penafsiran sendiri).

Hal itu tentu akan berbeda seandainya kita mengikuti aliran arus kehidupan tapi tidak menenggelamkan diri kita di dalamnya. Seandainya keadaan alam yang mengharuskan kita tenggelam, terima saja dengan bangga karena kita memang perlu tahu bagaimana tenggelam itu(menyelami). Sebaiknya jangan keasikkan tenggelam apalagi melupakan bahwa masih ada permukaan dan luar permukaan. Berusahalah secepatnya untuk muncul kembali ke permukaan, muncul bukan untuk menampilkan diri tetapi agar kita lebih banyak bisa melihat dan mendengar, sebagai tambahan wawasan kita dalam menilai dan memutuskan sesuatu terutama untuk diri kita. Jika pilihan hidup yang kita ambil adalah larut dalam tenggelam apalagi menenggelamkan diri, seperti apapun indahnya kita rasakan saat tenggelam itu, maka pasti kita akan banyak kekurangan wawasan(PICIK), hanya sebatas merasa bahwa kita berwawasan luas dan tahu banyak hal. Kita menjadi "picik" untuk bisa bertindak lebih bijaksana apalagi adil walau sebatas adil pada diri.

Bersikap adil pada diri akan menumbuhkan semangat, dan menciptakan suasana nyaman. Semoga setelah kita nyaman, orang-orang di sekitar kita akan nyaman juga. Bagaimana mungkin orang lain nyaman kalau kita sendiri hanya pura-pura nyaman? Seolah-olah nyaman(menyamankan diri) padahal dalam hati kecewa, sedih takut, khawatir marah dal lainnya. Kita tidak perlu baru merasa nyaman saat bersama dengan yang lain(wakil atau produk orang lain). Sehingga yang muncul malah ketergantungan bahkan memuja orang lain dan merendahkan diri sendiri. Kita mulai berubah meniru orang lain. Meniru gaya hidupnya sampai meniru semua sudut pandangnya. Yang ada pasti kesusahan yang kita dapat. Karena kita bukan mereka, jadi bagaimana mungkin menyamakannya. Kita boleh melakukan proses yang sama dengan orang lain, tetapi itu bukan karena meniru tapi karena kita memang ingin seperti itu dan kebetulan sama dengan yang sudah ada orang lain yang melakukannya. Bedanya hanya, kita benar-benar menginginkannya, bukan karena menginginkan menjadi seperti orang lain itu. Seandainya kita dibilang meniru wajar saja karena kita melakukannya belakangan. Dan itu benar-benar dibilang orang lain dan bukan kita yang bilang. Benar-benar hanya anggapan orang bukan anggapan kita, jadi kita tetap nyaman. Kita bisa menyamakan tujuan tapi bukan menyamakan proses mencapai tujuan apalagi menyamakan pikiran(nyuh aijeng sing patuh).

Semuanya harus dimulai dari diri sendiri karena kita sendiri yang merasakannya. Kalau kita minta orang lain yang memulainya, menyenangkan atau tidak hasilnya orang lain tidak harus bertanggung jawab. Karena mungkin saja itu yang terbaik menurut mereka. Jadi kalau mau akhir yang indah dan bagus menurut kita, mulailah membuat yang bagus itu dari diri sendiri. Jika kita melakukan hal yang dimulai untuk kesenagan kelompok atau golongan akhirnya kelompok dan golongan yang senang(bukan kita). Kalau ingin hal yang bagus untuk orang banyak, mulailah dari orang banyak(bukan diri sendiri, golongan atau kelompok) sehingga orang banyak akan merasakan bagus juga. Jadi sebaiknya apapun yang kita akan lakukan yaitu awal pastikan dulu siapa yang akan merasakannya(akhir). Karena "awal" adalah "akhir" dan "akhir" adalah "awal".

Jika hidup seperti itu(menenggelamkan diri) yang kita lakoni maka yang terjadi, waktu kita akan habis hanya untuk sibuk menyalahkan keadaan luar(permukaan dan luar permukaan) yang tidak kita tahu dengan jelas(baru sebatas merasa tahu karena mungkin kita pernah di permukaan beberapa saat, tetapi saat ini kita tenggelam bukan sedang di permukaan). Parahnya lagi bisa-bisa kita salahkan juga arus kehidupan. Kita sibuk menyalahkan, Kita sibuk mencari pembenaran hanya di zone sendiri(sebatas wawasan yang kita punya). Seharusnya kita sadari kalau kita mencari pembenaran atau mencari BENAR, artinya kita masih kurang benar(baru sebatas merasa benar, belum tentu sudah benar). Seandainya kita sudah benar buat apa mencari benar lagi? Apakah untuk ditabung? Atau untuk disumbangkan? Konsumsi sendiri aja kenapa? Setiap orang sudah mempunyai kebenaran(versi dirinya sendiri). Buktinya kalau kita mau jujur jarang sekali orang yang mau dan merasa punya salah(berarti mereka punya benar dan senang dibenarkan tidak mau disalahkan). Jadi itu artinya Kebenaran stoknya tak berbatas(no limit) di alam ini dan ada di mana-mana, di setiap kita dan kebenaran tak pernah habis walau setiap detik kita pakai. Jadi buat apa kita kumpulkan lagi?

Kebenaran itu untuk kita pakai bukan ditabung atau bukan untuk kita berikan kepada orang lain yang sudah punya kebenaran juga. Apalagi sampai memaksakan kebenaran kita pada orang lain. Terutama kebenaran yang sifatnya masih sebatas, kita anggap benar sudah kita paksakan ke orang lain. Berbeda halnya jika mereka menanyakan kebenaran jadi baiknya kita tunjukkan kebenaran mereka, bukan kebenaran kita. Kita ingatkan mereka sehingga tumbuh kesadaran awal yang murni bahwa mereka sudah punya kebenaran jadi tidak harus pakai kebenaran orang lain. Karena beda orang beda versi kebenarannya. Stok kebenaran banyak maka kalau orang lain memang menginginkan kebenaran, tinggal mereka ambil atau gali pada dirinya lalu pakai. Tidak perlu harus kita yang memberi(kecuali kita ingin dianggap). Dianggap pintar, dianggap baik, dan lainnya. Kita ingin tunjukkan bahwa kita banyak punya benar sehinga seakan-akan kita super benar. Kalau kebenaran kita pakai sebagai pertunjukkan apalagi hiburan, atau kita kasi orang lain atau kita tabung, lantas kita pakai apa? Jangan-jangan tanpa disadari kita sendiri malah pakai yang kurang benar bahkan mungkin yang tidak benar?

Terbersit pertanyaan, apakah kebenaran itu? perlukah kebenaran didefinisikan? Teman-teman yang bijak pasti sudah tahu jawabannya dan pasti juga sudah punya kesimpulan tentang apa yang sudah diuraikan diatas.
Kebenaran bukan untuk didefinisikan tapi untuk dijalankan. Kalau kita tetap mencari definisinya jangan-jangan malah kita keasyikan membuat definisi dan lupa melakukannya. Beberapa orang sudah mengerti bahwa jawaban dari sebuah pertanyaannya sebenarnya terkandung dalam pertanyaan itu sendiri. Tapi seandainya harus ada definisi karena sesuatu keadaan maka diperlukan definisi dan jawaban maka kesimpulan saya sendiri, KEBENARAN ADALAH
KETIDAKSALAHAN. BENAR ADALAH TIDAK SALAH. DAN SALAH ADALAH TIDAK BENAR.
Kita sebenarnya adalah rasa itu sendiri.
Seperti halnya keberadaan kita di bumi ini, manfaatkan setiap detik yang kita miliki dengan baik, setidaknya dengan berbuat yang menyenangkan bagi lingkungan kita(swadharma ring jagat ngawit akasa rauh ring pertiwi lan sedaging jagat) makhluk2 alam yang lain. Karena alam masih memberikan kita kesempatan menyandang status layak sebagai makluk penghuni bumi. Sebaiknya mulai seleksi diri kita sendiri sebelum alam menyeleksi kita(biasanya kita namai sebagai bencana alam).

Keberadaan kita sebenarnya adalah bayangan kita sendiri bukan bayangan orang lain. Kita tidak bisa tukar menukar bayangan(rasa) apalagi jual beli bayangan(rasa). Bisa saja kita beli senyum tapi sudahkan senyum yang kita dapat mengandung kadar ketulusikhlasan tinggi? Atau kita hanya bisa beli senyum palsu? Tanpa rasa?
Kenapa perlu senyum dengan ketulusikhlasan? Karena hanya ketulusan yang mampu memberikan rasa tenang dan nyaman pada kita. Tidak hanya sekedar tawa yang sifatnya hanya hiburan(kesenangan dengan durasi pendek). Berbeda halnya jika kita sendiri sudah bersinar maka pasti tidak ada bayangan. Karena kita sendiri sudah menjadi sumber cahaya. Bayangan ada karena kita bukan sumber cahaya.Semakin terang cahaya menyinari kita maka semakin hitam dan jelas pula bayangan kita. Kita tidak bisa memilih agar kita selalu berada di tempat penuh cahaya tetapi tidak punya bayangan(ego). Terima dengan ikhlas seperti apapun bayangan kita. Jangan bersedih saat berada di cahaya redup(saat kurang menyenangkan), tapi bersyukurlah karena saat redup bayangan(ego) kitapun lebih putih dan samar-samar. Jangan terlena dan mabuk tapi berhati-hatilah saat kita ada di tempat penuh cahaya(penuh keberuntungan), karena bayangan(ego) kitapun akan semakin jelas dan hitam. Kalau keberadaan kita, kita definisikan adalah rumah tinggal kita, status sosial, prestasi atau pakaian kita, lingkungan kita, dan lain sebagainya maka banyak sekali definisinya. Dan itu pasti bukan kita sebenarnya, hanya ekspresi, hanya bagian dari kita atau bisa jadi hanya sekedar wakil kita. Lagipula untuk apa kita perlu definisinya? Bukahkah lebih penting mengertikannya? Definisi akan membantu kita memahami sebatas memahami. Tapi sekaligus definisi justru akan membatasi dan membelenggu sesuatu yang didefinisikannya.

Maka tidak mengherankan jika orang-orang pinggiran(bukan dipinggirkan) akan lebih bisa menghargai kebenaran orang lain. Orang-orang miskin(bukan dimiskinkan) jauh lebih ikhlas membantu yang lain. Orang-orang pinggiran dan orang-orang miskin di pinggiran yang hanya punya beberapa kilogram beras(hanya 50kg) dengan tulus membaginya(sampai 5kg) dengan teman dan saudaranya sebagai oleh-oleh atau hadiah atau penghargaan. Bahkan mereka yang hanya punya waktu dan tenaga, tulus ikhlas memberi bantuan tenaga pada lingkungannya yang memerlukan atau mereka yang dianggap perlu.
Tapi bagaimana dengan orang-orang yang tidak miskin dan bukan orang pinggiran yang tidak di pinggiran(istana mungkin atau rumah dengan status tidak di pinggiran), yang mempunyai lebih dari beberapa kilogram beras sekalipun dalam bentuk bukan beras, beranikah mereka membaginya sekalipun itu hanya seperseratusnya?
Dan kita sendiri dimana? Keberadaan kita seperti apa?

Pertanyaan yang muncul lagi, jika setiap orang memakai kebenarannya masing-masing, sebagai patokan langkahnya apakah ada kenyamanan dan ketenangan untuk dia dan lingkungannya? Apakah justru tidak terjadi benturan-benturan?
Kembali ke uraian di atas, jika kita tenggelam maka kebenaran yang lahir lebih banyak hanya berdasarkan persepsi tenggelam. Sedangkan kebenaran sesungguhnya adalah saat kita di permukaan(lebih bijak). dan semua yang berjalan di arus permukaan akan selalu senada seirama satu sama lainnya, hanya ada duluan dan belakangan. Tapi semua akan melaluinya. Karena kita sama-sama berada di aliran arus kehidupan yang sama. Terkecuali ada suatu keadaan alam yang mengharuskan kita larut misalnya air terjun. Terima dengan tulus karena air terjun itu bukan kita penciptanya. Dan kita tidak bisa meniadakan air tejun itu dalam aliran arus kehidupan. Tidak usah mengeluh karena rela atau tidak, senang atau tidak, itu harus kita lalui, di aliran arus kehidupan kita.Jangan menghindar dari pusat terjunan apalagi terlena di pinggirannya, karena itu hanya akan membuat kita berputar-putar di areal itu alias jalan di tempat(cara tai di andunganne). Wajar saja kita merasa sudah jauh berjalan dan banyak melalui berbagai hal, tetapi kembali saya tegaskan, Itu baru sebatas rasa, bukan keadaan sebenarnya. Bulatkan hati dan keberanian menerima keadaan itu dan tak henti-henti berusaha ke pusat terjunan(hal yang paling kita takuti dan benci). Karena dengan berani berada di pusat terjunan(penderitaan) maka akan lebih cepat dan lebih besar peluang kita menuju muara(tujuan).

Apa muara atau tujuan hidup itu?
Sebaiknya kita pahami apa itu hidup. Hidup adalah tidak mati.
Lalu apa tujuan hidup? Tujuannya adalah Mensyukuri aliran arus kehidupan itu sendiri sebaik-baiknya. Lalu menuju laut. Karena laut adalah akhir sekaligus merupakan awal. Karena dalam perputaran akhir adalah awal itu sendiri. Begitu pula sebaliknya, awal adalah akhir itu sendiri. Semoga di laut kita bisa terurai menjadi mineral yang bisa memberi kehidupan. Ataukah kita bisa jadi awan lalu menjadi hujan dan kembali. Bersyukur karena kita masih ada di aliran arus kehidupan. Memilih kebenaran(permukaan) sebagai lakon kita. Karena menempatkan diri di permukaan akan membuat kita selalu ingat dibawah kita(yang tenggelam) dan menghormati di atas kita(yang di luar aliran). Sehingga tidak ada rasa berlebih yang tidak pada tempatnya. Tidak menganggap rendah mereka yang tenggelam dan menganggap diri lebih baik apalagi sampai merasa kita seakan sudah bisa terbang dan lepas dari dunia dimana kita berasal. Seandainya kita ikan dan sudah bisa terbang sekalipun, jangan sampai lupa bahwa dunia kita adalah air, itu sama saja kita lupa diri kita sendiri(bahwa kita itu masih ikan).
Karena BENAR adalah TIDAK SALAH,
Dan SALAH adalah TIDAK BENAR,
Berusaha menempatkan rasa di tempat yang "layak" menurut kesadaran yang tulus. Sehingga jika status "layak" berubah menjadi "lebih layak" maka kita tidak akan mabuk dan lupa diri.Dan juga saat status layak berubah menjadi "kurang layak" atau bahkan "tidak layak", kita selalu siap dan tidak pernah tidak siap menerimanya dengan tulus tanpa sibuk mencari pembenaran.

Semoga bermanfaat.

November 2, 2012 · Tabanan

 

Dek Enoy (I Made Jonita)