SULUR UMA

4 October 2014

Kayu Antap banyak tumbuh dan sengaja ditanam di dekat KUBU=UBUK atau gUBUK di tengah Uma/sawah. Kubu disamping sebagai tempat istirahat bagi Pemacul/Petani atau sebagai dUNUNGan bagi Petani/tempat bernaung, juga difungsikan sebagai kandang sapi/kerbau. Dunungan adalah tempat sementara bagi petani tinggal sehubungan dengan tempat kerjanya. Atau boleh dikatakan sebagai tempat mencari kenyamanan kerja, bukan kenyamanan tinggal.

Karena Uma bukan Umah/rumah tempat tinggal. Kubu adalah VILLA bagi petani dan juga sebagai tempat bagi Petani untuk mengawasi dan mengontrol wilayahnya, lingkungan dan tentu juga sawahnya. Mengawasi pertumbuhan tanaman padi, mengontrol peng-AIR-an sawahnya juga mengawasi padinya dari gangguan dan hama yang mungkin menyerang Padinya.

Bentuk daun kayu Antap mirip seperti bentuk daun kayu Tunjang Langit. Bahkan fungsinya hampir mirip kayu Tunjang Langit. Tetapi tidak semua fungsinya sama. Mirip juga dengan daun ketela cuma lebih besar tetapi tidak rimbun apalagi sampai menutup dan membunuh tanaman yang tumbuh dibawahnya. Kayu Antap tumbuh menjulang tinggi, tidak banyak bercabang ke samping dan fokus menuju langit.

Kayu Antap tumbuh menjulang tinggi tetapi tidak menjadikan dirinya penguasa, yang memonopoli sinar matahari dan air hujan sehingga membuat gelap tanaman di bawahnya. Tetapi pengAYOM, melindungi dan mengatur daunnya agar senantiasa berfungsi baik dan bermanfaat penuh bagi tanaman di bawahnya, sebagai pelindung dari panas matahari dan derasnya ujan dan sekaligus pada saat yang sama meneruskan hangatnya mentari dan segarnya ujan.

Kayu Antap bukan sekedar untuk melindungi petani dari teriknya sinar matahari, tapi juga melindungi petani dari ancaman Petir yang sangat berbahaya. Penangkal petir alami bagi Kubu dan semua isinya.

More
22 December 2013

AWALI DENGAN BELAJAR MINUM DAN MAKAN SEBELUM
BELAJAR BERBICARA APALAGI BERDIRI DAN BERJALAN

Makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Karena tugas utama hidup adalah mempertahankan hidup itu sendiri. Tidak penting makan banyak atau sedikit, makan mewah atau sederhana karena kita hanya perlu hasilnya yaitu bertahan hidup. Tidak penting apa yang kita lalui, apakah kaya, terkenal, disegani, miskin tersisih, dipinggirkan. Yang penting adalah bertahan hidup. Buat apa sukses, dihormati, disanjung tapi gagal hidup? Kenapa mesti makan berlebih atau makan mewah dan memuaskan kalau ujung-ujungnya merusak hidup? Bahkan bisa mengurangi hidup itu sendiri. Padahal kita tahu selera kita tidak akan pernah puas. Apakah karena kepuasan itu sesungguhnya adalah ketidakpuasan itu sendiri? Sepertinya perlu kita cermati agar kita tidak menjadi BUDAK dari rasa palsu yang diciptakan oleh pikiran. Pikiran tidak salah karena memang bertugas seperti itu agar kita tetap bertahan hidup. Dia harus terus bergerak karena kalau diam maka itu berati kita sudah tidak hidup lagi(pasti sudah mati karena kalau koma pikiran pasti masih bergerak).

Seperti halnya kepastian. Kita sadari atau tidak kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Hal yang pasti adalah ketidakpastian dan hal yang tidak pasti adalah kepastian. Kepuasan adalah sebuah rasa bukan sebuah bentuk(gaya hidup atau materi lain). Kenapa kita lupakan itu sehingga begitu mudahnya kita tertipu oleh pikiran yang sebatas merasa-rasa, seakan-akan rasa itu adalah sebuah bentuk dan akhirnya memaksa kita mewujudkannya menjadi sebuah bentuk. Entahkah bentuknya gaya hidup,status sosial, atau barang atau jasa atau lainnya. Rasa adalah rasa. Tanpa kita ulas atau bahaspun, secara alamiah sudah kita mengerti dan pahami dari perjalanan hidup kita. Seandainya saja kita memaknai setiap jengkal perjalanan hidup itu sendiri. Saat kita menikmati setiap detik dari hidup kita, dengan menerima dan bersyukur maka kita akan mengerti dan menerima dengan bijak semua rasa yang kita dapat. Dengan begitu kita akan mampu berlaku lebih adil terhadap semua rasa yang kita terima. Setidaknya adil pada diri sebelum adil pada yang lain. Tidak membenci rasa kurang nyaman(larut dalam kesedihan dan dendam dan bentuk lainnya) yang hanya akan menyandera hal-hal baik pada diri kita, memaksa pikiran dan kemampuan kita hanya untuk memikirkan hal-hal yang kurang baik. Menyita setiap detik yang kita miliki hanya untuk TENGGELAM.

Kita memang ada di aliran arus kehidupan tapi tidak harus tenggelam karena jika sampai tenggelam(keasyikan,terlena atau kelangen), apalagi tenggelam dalam kenikmatan dan keindahan duniawi, maka itu justru akan meminggirkan jiwa kita. Akan tetap lebih baik jika kita ada disana tapi tidak tenggelam atau sengaja menenggelamkan diri. Jika sudah tenggelam kita tidak akan bisa lagi jelas mendengar dan melihat hal-hal lain(EGO). Pikiran kita hanya dikegelapan dan kebisuan, dan menganggap hidup dan dunia hanya sebatas itu(dalam ketenggelaman). Paling hebat kita akhirnya melihat sebatas mengira-ngira permukaan itu seperti apa. Dan tidak tahu pasti permukaan itu bagaimana, apalagi di luar permukaan. Tidak bisa lagi melihat dengan jelas hal luar dan mendengar jelas hal luar(kebanyakan akhirnya memakai penafsiran sendiri).

More
19 December 2013

Sebuah upaya DECODE oleh Dek Enjoy (Made Jonita, Br. Pagi)

untuk masa "Tebek Taun" kali ini, upacara Magpag Toya untuk Subak Ganggangan dilakukan saat Purnama 17 Desember 2013, jam 7 pagi.

Setelah Magpag Toya di EMPELan maka dilanjutkan dengan Ngendagin(NDAG=terbit), yaitu upacara membuka saluran air ke masing2 kecoran/carik suang2 sesuai kebutuhan dan hari baik menurut masing2 krama subak (tidak bersamaan).

Untuk mulai mengolah tanah/membajak, Hari Baik tiap krama berbeda, bergantung pada kecocokan masing2/bergantung hari baik menurut penggarap/pelaku.

Hari baik ini tetap dipakai selanjutnya misal : kalo hari baik krama A adalah Selasa, maka Ngendagin dilakukan Selasa. Lanjut memula/nandur jg Selasa. Negtegin jg Selasa. Sampe ke Mantenin saat Padi panen nanti diupacarai di Jineng/lumbung jg Selasa.

More
8 December 2013

Menghitung balik berdasar KEBUTUHAN


Pernahkah Anda iseng bertanya pada siapapun yang rutin mengurusi memasak di dapur?

Mungkin Ibu Anda, adik, atau pembantu... atau malah Anda sendiri, "berapa banyak menanak beras setiap hari?"

Setiap berapa hari membeli stok beras? Dalam sebulan berapa Kilogram diperlukan?

 

Tentu jawabannya bervariasi, sangat tergantung pola makan, serta jumlah yang mengkonsumsi.

Coba bersama kita ingat hal-hal sehari-hari yang karena begitu biasanya mengalir, kita sering tak terlalu menghitungnya. Sehingga kita bisa temukan angka KEBUTUHAN rata-rata per-bulan, lalu per-musim tanam.

Kenapa sampai memperhitungkan musim tanam?

nanti akan kita pahami mengapa :)

 

Baiklah untuk contoh perhitungan sederhana, saya gunakan jawaban Ibu saya:

"Setiap hari Ibu menanak beras 1 Kg." 

jadi sebulan habis 30 Kg.

Semusim tanam yang 4 bulan berarti 120 Kg (umur padi 100 hari), atau 180 Kg jika musim Padi Tahun (umur padi 140 hari).

 

Keluarga lain tentu beda-beda.

Dan beras, untuk mereka yang ber-adat Bali, bukan hanya untuk stok pangan keluarga sendiri, tapi juga untuk mesima.

Saya coba bertanya pada beberapa orang, ada yang menyebut stok 4 Kuintal gabah untuk makan dan mesima selama semusim.

Silakan Anda temukan angka KEBUTUHAN ANDA :)

More
6 December 2013

Sawah ini sudah berumur berabad-abad, dikelola dengan benar berdasarkan pengetahuan, pikiran dan kearifan lokal yang ada. Sawah bergeliat lintas generasi dan perubahan. Juga lintas kepemimpinan di negeri ini. Mulai jaman kerajaan hingga jaman republik. Bahkan hingga jaman digitalisasi hingga "narsis"nya komprador WTO. Sebuah karya yang berkelanjutan. Sebuah lahan pertanian pangan yang abadi sejak pertama kali dibuat beberapa abad lalu.

Tabanan masih dikenal lumbung beras, kini disebut lumbung pangan. Salah satunya karena keberadaan sawah Tabanan yang tahun 2012 masih tersisa 22.338 Ha saja. Sudah saatnya kita bangga dengan keberadaan sawah-sawah di Tabanan. Bangga sebagai warga Tabanan karena memiliki aset sawah sebagai wujud kedaulatan pangan. Walau hanya memberi kontribusi rata-rata PDRB 3,02 per tahun. Angka yang relatif kecil dibanding yang lain.

More